Sabtu, 23 Februari 2013

Hewan Ini Cuma di Indonesia

0 komentar
Dalam ilmu pengetahuan ada istilah endemik, yaitmenjelaskan tentang sesuatu yang hanya bisa ditemukan di daerah tertentu saja. Bisa itu tumbuhan atau hewan. Nah, Indonesia pun punya banyak hewan endemik, alias hanya bisa ditemukan di Negara ini. Itu artinya semua hewan itu harus dilindungi karena kalau punah, nggak bakalan ada lagi di tempat lain. Ini dia beberapa di antaranya:


Anoa
Hewan yang mirip kerbau ini hanya ada di provinsi Sulawesi dan pulau dekat Buton. Anoa hidup di pegunungan yang punya ketinggian sekitar 500 – 2000 meter. Sayangnya karena penjarahan hutan dan perubahan cuaca, populasi Anoa semakin menurun. Bahkan hewan ini sudah termasuk langka sejak tahun 1960an dan jumlahnya tinggal beberapa ribu saja. 






Komodo
Pasti kenal dong, sama kadal besar ini. Hewan yang hanya bisa ditemukan di pulau Komodo ini sangat beken di dunia. Pasalnya, reptil ini dianggap sebagai salah satu hewan purba yang masih hidup saat ini. Keberadaan Komodo yang cuma ada di pulau Komodo membuat pulau ini dikunjung berbagai wisatawan dan peneliti dari seluruh dunia. Bahkan membuat namanya masuk daftar New7Wonders of Nature.



Badak Jawa
Di seluruh dunia, badak termasuk hewan yang sangat langka. Ada lima jenis spesies badak yang dilindungi saat ini. Salah satunya adalah Badak Jawa. Badak yang hanya bisa ditemukan di pulau Jawa ini punya ciri khas tersendiri. Yaitu, badannya yang termasuk kecil untuk ukuran seekor badak dan bercula satu. Kini Badak Jawa hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. 
 

Cara Tampil beda dengan Oxford Shoes

0 komentar

Oxford shoes, sepatu kulit dan beraksen tali seksi ini dibawa dari negara asalnya Skotlandia dan Irlandia. Entah kenapa dinamai Oxford. Menurut sejarahnya, di tahun 1800, para lulusan Oxford, Inggris, menciptakan sepatu yang identik dengan lubang-lubang artistik, dekoratif (toe cap) membentuk sulur yang menghias permukaan atasnya.
Seperti Coco Chanel yang lekat dengan pernik klasik, gaya sepatu Oxford atau Brogues justru terlihat Androgny, demikian pengamat fashion dunia menilai sepatu bergaya unisex tersebut. Supermodel dunia, Agynes Deyn, adalah pelopor pertama tren Oxford shoes di ranah fashion. 
Sepatu ini sekilas mirip dengan model sepatu pantofel, namun yang membedakan, Oxford shoes memiliki detail jahitan di kanan dan kiri yang membentuk sayap. Oxford Shoes biasanya hadir dalam warna-warna "aman" monokromatik, seperti hitam, coklat, abu-abu dan putih, namun kini tersedia juga Oxford Shoes dalam warna-warna cerah. 
Pengayaan dalam tren Oxford shoes, salah satunya adalah menciptakan model tersebut dengan mengadopsi bentuk ankle boots. Hm, so hot!
Modelnya yang lebih mirip sepatu pantofel pria, membuat sebagian wanita terlalu takut atau pikir-pikir memilih sepatu tersebut untuk dipadupadankan dengan busana. Takut dibilang terlalu maskulin, padahal sejatinya sangat feminin. Alhasil, Oxford Shoes bisa jadi jebakan saat dipadukan dengan busana.
Agar tak menjadi kormod alias korban mode, sebaiknya jangan pernah melanggar aturan main padu padan busana. Oxford Shoes yang membuat Anda tampil "boyish" bisa diimbangi denganblouse ruffle atau renda berwarna lembut agar terkesan lebih feminin.
Sementara, untuk Anda yang senang tampil casual, sandingkan Oxford Shoes dengan celana pendek (shorts), plus padukan dengan T-Shirt simpel. Imbangi dengan lebih banyak aksesorisbold, untuk kesan feminin. Ingin tampil sedikit beda, boleh intip gaya busana Diana Rikasari,fashion blogger - yang memadukan stocking warna cerah dengan Oxford Shoes hitam, miliknya. 
Padukan dengan pleated skirt di atas lutut, t-shirt feminin atau camisole, untuk tampilan chic. Untuk kesan beda dan lebih muda, tambahkan juga kaos kaki selutut. Sementara, teman dekat Oxford adalah jeans model pensil atau skinny. Padukan saja dengan atasan tunic longgar atau cardigan, lengkapi pula dengan tas feminin.
So, siap tampil beda dengan cara beda?

Selasa, 13 November 2012

Cerita Anting Kamu :)

0 komentar

Sejarah Anting



Wanita dikenal sebagai pecinta perhiasan. Salah satu jenis perhiasan tersebut adalah anting-anting. Anting-anting digunakan sebagai penghias telinga. Selain memunculkan kesan elegan, anting-anting juga bisa meningkatkan rasa percaya diri. Berikut adalah sejarah unik dari anting-anting.

Menurut dugaan sebuah sumber, anting-anting merupakan "evolusi" dari sumbat telinga yang lazim dikenakan oleh masyarakat tradisional sebagai ornamen telinga. Sumbat telinga yang pernah ditemukan pun terbuat dari berbagai bahan, misalnya di kediaman suku Ainu diJepang bagian utara ditemukan sumbat telinga dari kain, sedangkan suku Maya di Amerika menggunakan sumbat telinga yang beragam bahannya, seperti giok, bebatuan, tulang, kerang, kayu, dan logam, dengan berbagai ukuran. 

Kita tahu masyarakat Berawan di Kalimantan pun mengenakan sumbat telinga yang berdiameter 9,5 cm, sedangkan milik suku Masai di Afrika Timur bergaris tengah 11,4 cm dan berat hingga 1,3 kg!
Namun, tak tercatat sejak kapan persisnya anting-anting itu dibuat. Sebegitu jauh, baru anting-anting yang ditemukan di Ur, Mesopotamia, yang dilabeli anting tertua. Anting dari masa 3500 SM itu berbentuk seperti cincin besar berpinggiran tipis. Diduga, bentuk cincin itu merupakan bentuk asal anting-anting.


Selain dari Mesir, model yang sama muncul pada masa awal berdirinya bangsa Yunani (2500-1600 SM). Malah bangsa berbudaya seni tinggi itu pula yang memperkenalkan satu bentuk anting yang serupa, bulan sabit. Melimpahnya persediaan emas di masa jayanya, membuat Yunani (600-475 SM) menghasilkan anting-anting emas yang canggih. Misalnya, yang berbentuk perahu lengkap dengan manusia sebagai penumpangnya.
Meski anting-anting gantung dengan panjang mencapai bahu populer pada akhir masa klasik (475-330 SM), tetap saja bentuk cincin lebih banyak dipilih. India, misalnya, membuat model serupa namun berukuran lebih besar menjelang berakhirnya abad 1 SM. Tak cuma itu, sebuah lukisan di Cina dari abad VII pun menggambarkan beberapa wanita mengenakan anting-anting cincin.

Tapi anting-anting sempat tenggelam dari sejarah peradaban manusia, terutama di Eropa, kira-kira abad XVII, XVIII, dan XIX. Penyebabnya, tak lain munculnya gaya rambut, rambut palsu, dan hiasan kepala yang menutupi telinga. Namun, ketika ditemukan anting jepit, juga cara melubangi daun telinga yang tidak sakit, di abad XX anting-anting berjaya kembali.

Sebagai aksesori, anting memang sering dipandang sebagai perhiasan eksklusif kaum wanita, seperti pada masyarakat di Asia bagian barat -termasuk Israel dan Mesir Kuno. Namun, kenyataannya, di Yunani dan Roma Kuno, misalnya, pria beranting dapat segera dikenali sebagai pria dari Timur, misalnya Timur Tengah. Malah, kaum pria Eropa pada masa Renaissance (1400-1600) dan Barok (1500-1750) pernah suka mengenakan anting sebelah. Lucunya, di abad XVII dan XVIII, mereka menambahinya dengan mutiara. Pemicunya, konon karena Pangeran Inggris Charles I yang selamat dari tiang gantungan dengan menggunakan anting semacam itu.
Selain mutiara, telah sejak lama berbagai batu permata pun digunakan untuk menyemarakkan model anting-anting.Seperti kecubung, pirus, akik, dan jasper yang diikat emas dan perak pada anting-anting kaum wanita Mesir. Lain lagi dengan masyarakat India yang memasukkan perunggu dan emas, serta memadatinya dengan mutiara dan batu-batuan.

Setelah platina diperkenalkan untuk pengikat batu permata, pada 1920-an ditemukan cara budidaya mutiara. Terlebih saat makin berkembangnya proses produksi plastik. Hasilnya, setelah PD II, membanjirnya anting-anting maupun giwang warna-warni yang tak kalah kilauannya dengan batu permata asli. Anting-anting terus berkembang, dari fungsi semual sebagai jimat, menjadi asesori untuk memenuhi dorongan untuk berhias yang tampaknya berlaku universal. 
 

did you know !!! Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template